Dugaan Pengeroyokan Siswa Bener Meriah Jadi Sorotan, PII: Jangan Anggap Kekerasan Hal Biasa
ACEH BARAT — Dugaan pengeroyokan terhadap seorang siswa SMAN Unggul Binaan Bener Meriah mendapat perhatian publik. Peristiwa yang diduga melibatkan sejumlah kakak kelas tersebut kini tengah ditelusuri oleh pihak sekolah dan kepolisian.
Insiden itu disebut terjadi pada Sabtu, 22 Agustus 2026, sekitar pukul 14.00 WIB. Rekaman video yang diduga memperlihatkan aksi kekerasan terhadap korban kemudian beredar di media sosial dan memicu keprihatinan masyarakat.
Dalam rekaman tersebut, korban tampak mendapat perlakuan kekerasan berupa pukulan dan tendangan dari beberapa orang. Setelah kejadian, korban terlihat dalam kondisi tidak berdaya dan dilaporkan kemudian mendapat perawatan di rumah sakit.
Pihak sekolah membenarkan adanya insiden tersebut. Namun, sekolah menyampaikan bahwa kejadian diduga berlangsung di luar jam sekolah. Karena itu, pihak sekolah masih melakukan penelusuran untuk memastikan kronologi kejadian serta mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat.
Kasus ini turut mendapat sorotan dari Ketua II Bidang Pendidikan, Pembinaan dan Olahraga (PPO) PII Aceh Barat, Rahmat Syukri. Ia menyayangkan dugaan kekerasan yang menimpa pelajar tersebut dan meminta agar persoalan itu mendapat perhatian serius.
“Ini sangat kita sayangkan. Seharusnya sekolah menjadi tempat yang aman bagi siswa, bukan menjadi ruang yang membuat siswa merasa terancam,” ujar Rahmat Syukri, Senin (24/8/2026).
Menurut Rahmat, dugaan kekerasan di kalangan pelajar tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa.
Ia meminta pihak sekolah dan seluruh pihak terkait memberikan perhatian terhadap kondisi korban serta memastikan proses penanganan dilakukan secara objektif berdasarkan fakta.
Rahmat juga berharap, apabila nantinya terdapat pihak yang terbukti melakukan kekerasan, persoalan tersebut dapat ditangani sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Namun, di sisi lain, pembinaan dan pengawasan terhadap para pelajar juga perlu diperkuat sebagai langkah pencegahan.
“Jangan sampai kekerasan di kalangan pelajar dianggap sebagai hal biasa. Kita harus sama-sama menjaga anak-anak dan menciptakan lingkungan pendidikan yang aman,” katanya.
Rahmat mengajak pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat untuk meningkatkan pengawasan terhadap pergaulan pelajar.
Menurutnya, upaya mencegah kekerasan membutuhkan keterlibatan bersama dan tidak hanya menjadi tanggung jawab pihak sekolah.
Ia berharap korban mendapatkan penanganan yang baik serta segera pulih dari kondisi yang dialaminya. Ia juga mengimbau seluruh pihak untuk menunggu hasil penelusuran sekolah dan kepolisian agar persoalan tersebut dapat diketahui secara jelas berdasarkan fakta yang sebenarnya.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Related Articles